Wahyu Sulaeman Rendra ( Willibrordus Surendra Broto Rendra) lahir di Solo, Jawa Tengah 7 November 1935, dan wafat di Jakarta tanggal 6 Agustus 2009. WS Rendra adalah sosok yang mengagumkan, betapa tidak pria dengan julukan Burung Merak ini telah melahirkan berbagai karya yang sangat mengagumkan…Syairnya begitu dalam dan begitu nyata… Dan terbukti begitu banyak penghargaan yang beliau dapatkan, diantaranya
- Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan , Yogyakarta (1954)
- Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956)
- The S.E.A. Write Award (1996)
-
- Penghargaan Achmad Bakri (2006). Hal ini membuktikan karyanya bukan sekedar karya, tapi melainkan sebuah karya yang di timbulkan dari hati.
Sajak Sebatang Lisong
menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukung mengangkang
berak di atas kepala mereka
matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak – kanak
tanpa pendidikan
aku bertanya
tetapi pertanyaan – pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis – papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan
delapan juta kanak – kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya
……………………..
menghisap udara
yang disemprot deodorant
aku melihat sarjana – sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiunan
dan di langit
para teknokrat berkata :
bahwa bangsa kita adalah malas
bahwa bangsa mesti dibangun
mesti di up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor
gunung – gunung menjulang
langit pesta warna di dalam senjakala
dan aku melihat
protes – protes yang terpendam
terhimpit di bawah tilam
aku bertanya
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair – penyair salon
yang bersajak tentang anggur dan rembulan
sementara ketidak adilan terjadi disampingnya
dan delapan juta kanak – kanak tanpa pendidikan
termangu – mangu di kaki dewi kesenian
bunga – bunga bangsa tahun depan
berkunang – kunang pandang matanya
di bawah iklan berlampu neon
berjuta – juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau
menjadi karang di bawah muka samodra
……………………………
kita mesti berhenti membeli rumus – rumus asing
diktat – diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa – desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata
inilah sajakku
pamplet masa darurat
apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah kehidupan
Hmmm jadi terenyuh…membaca kembali gundukan puisi itu, bagaimana tidak jika aku ingat orang yang ku anggap sebagai figur bapak seni ku telah tiada…tapi meskipun begitu aku akan tetap mengingatnya…
seperti gundukan puisi yang kubuat sebagai persembahan terakhirnya
Selamat jalan bapak
Matahari memang tidak lagi menampakan dirinya
dan perannya telah diganti oleh sang rembulan
Mata ini tak lagi bisa melihat dengan jelas
Sosokmu yang begitu mengagumkan
karena kau sekarang tak dapat disentuh, dilihat
tapi kau dapat dirasakan dalam setiap aliran darah
aku dapat merasakan hadirmu
dalam setiap gundukan syair karyamu yang kubaca
aku merasakan kau tersenyum
kala aku mengingatmu dengan cara membaca karya mu
tetaplah bapak…tetaplah hadir dalam setiap imajiku
karena aku akan berkarya mengikuti jejakmu
menuliskan kejujuran dunia
dalam sebuah gundukan syair
pergilah dengan tersenyum
tak usah khawatir
semua orang tetap mengingatmu
kau tetap hidup dalam napas-napas karyamu